Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2020

Tentang Hari

Kian hari pikir semakin pengap

Menampung tiap-tiap memoar terdahulu

Hingga mata terkatup

dan sembab

 

Kian hari raga semakin gusar

Mempertanyakan kisah yang tak berkesudahan

Hingga penat

dan mendekur di atas ranjang

 

Hari ini memoar itu datang

Mendatangkan memori yang menyakitkan

Hingga mulut bersuara

dan mengutuk

 

 

 

 

Hari ini pemilik kisah datang

Mengelus telapak tangan

Lantas membuai tak berkesudahan

Kataku cukup

 

Esok hari semua hilang

Tidak ada satu pun penjelasan

Dan semakin jauh tenggelam

Dalam kesunyian

 

Setiap hari Tuhan berpesan

Jangan bergantung pada seorang insan

Atau akan mendapat pesan

Sebuah kekecewaan

Tembok Tanpa Batas Negeri Pertiwi

Jari jemari menatap takjub tembok khatulistiwa

Menjulang rapat melintasi serambi nol derajat

Bersentuh jiwa bersama deretan tembok raksasa Pulau Jawa

Berdiri sambung menyambung hingga langit Papua

Tembok memesona

berdiri perkasa tanpa dipaksa

Menghadap gerak gerik perbedaan yang mendewasa

 

NKRI

Tembok berlatar keindahan negeri

Dibangun sang saudagar pemurah hati

Sebab teramat dalam memendam cinta terhadap negeri

Negeri pembangun kontribusi

Indah sekali

 

Terima kasih saudagar pemurah hati

Pembuka penerangan hati pemuda pemudi

Terkhusus aku yang mulai mengerti

Perasaan takjub akan bumi pertiwi

Bumi yang selama ini memberi polesan arti

Pun tak segan berujar Aku Cinta NKRI

 

Tembok tanpa batas negeri pertiwi

Materialnya mengikuti penuh arti

Susunan bata merah bersilang tegak berdiri

Mengokohkan keberanian persatuan yang terikat janji

Tiang besi menjulang menyanggah kehancuran

Kehancuran tali temali perbedaan

 

 

Pemuda pemudi merapat barisan

Bersekongkol menahan kerapuan tembok negeri pertiwi

Bersama menggenggam jiwa kebesaran

Kebesaran hati menerima kebinekaan

Lantas menolak segala rupa bersitegang

Meluluhlantakkan badai perpecahan

 

NKRI

Aku bersepakat dengan nurani

Menjaga keutuhan setiap fondasi tembok negeri beribu pulau

Menaruh cinta akan tembok persatuan

Tembok persatuan kelompok menolak pertempuran

Berdiri kokoh tanpa batas di negeri pertiwi

Suara Parau Indonesia


Bagaimana 74 tahunmu?

Masihkah darah tumpah di tanah?

Negeri ini sedang ambang

Tanah tumpah darah temaram

 

Raga memang merdeka

Kaki lepas tertatih

Jiwa lunglai terbuka

Hati bebas memilih

 

Akan tetapi,

Mulut terbergol menentang eksekusi

Seret sudah kerengkongan ditarik para berdasi

Demi menutup kreasi tuan-tuan muda negeri

 

Ternyata hanya raga yang merdeka

Tidak pula dengan suara

Suaraku dibungkam suaraku dibuat parau

Hingga keluh kesah tak jadi risau

 

Bukannya kalian sendiri yang mendesak aku lahir?

Merebut paksa aku dari para kompeni

Tapi kini, aku seperti tak ada harga diri

Mana katamu NKRI harga mati?

 

Janji-janji hanya sebatas permainanan negeri

Bila tahu akan seperti ini

Aku tidak akan ingin dilahirkan

Bila akhirnya hanya akan disia-siakan

 

Relawan Pencinta Bumi Pertiwi


Lantang aku berdiri

Menghadap negeri pertiwi

Bergumam lirih pasti

Indonesia negeri bineka

 

Hamparan cakrawala enggan serumah

Iringan tor-tor di Tanah Karo

Mengembang pula lantunan syahdu sinden di Selat Sunda

Sukar menggugat sebab keduanya emas Nusantara

 

NKRI suara batin pelakon bumi

Tidak sekadar berdiri tanpa arti

Tak hanya mengibar tanpa mengikat

Bukan jua hormat tanpa garisan arah

 

Kami cinta negeri pertiwi

Unjuk potongan keanekaan bumi

Mengubur dalam isu ironi

Luluh lantak dimakan api

 

Kami relawan pencinta negeri

Negeri bineka

Negeri pengibar bendera pusaka

Lantas bersorak Bhinneka Tunggal Ika

Etika dalam Menyimak

"Malu bertanya sesat di jalan”   sadar atau pun tidak ungkapan ini telah banyak mempengaruhi pemikiran masyarakat saat ini. Bertanya se...